VISI : "Mewujudkan Desa Maju, Membentuk Desa Mandiri, dan menjadikan Masyarakat Desa Adil dan Makmur"

SEJARAH ASAL USUL DESA KALIMEKAR

Asal Usul Terbentuknya Desa Kalimekar

Raden Kuncung bersama Ki Sapta Arga dari Gilangkencana melakukan pengembaraan dengan maksud menuju ke daerah Kenanga. Raden Kuncung adalah putra Raden Jebug Angrum dan ibunya Dewi Andraningrum dari Lebaksiu.
Daerah Kenanga adalah daerah tempat tinggal Ki Gedeng Atmawijaya, seorang yang banyak memiliki ilmu dan disegani rakyat. Ia memelihara seekor buaya yang ditempatkan di sungai Cisanggarung, dalam sebuah kedung bernama Kedung Reyong di Maneungteung (Waled sekarang).
Raden Kuncung akhirnya bertemu dengan Ki Gedeng Atmawijaya. Setelah keduanya saling berkenalan, mereka sepakat untuk bertanding adu kesaktian. Ki Gedeng Atmawijaya mengetahui usia tamunya masih muda belia, dan dianggap sebagai jejaka yang masih hijau di bidang kedigjayaan, sehingga Ki Gedeng Atmawijaya sangat agul lagi menyombongkan diri.
Beberapa ilmu kesaktian sengaja ia pamerkan untuk menakut-nakuti Raden Kuncung, bahkan ia mengatakan memiliki binatang piaraan seekor buaya yang sangat tunduk dan jinak. Jika dikehendaki buaya piaraannya akan datang dengan mudah untuk melahap musuhnya. Mendengar celotehan Ki Gedeng Atmawijaya, Raden Kuncung hanya mangut-mangut dan tersenyum, menunjukkan bahwa dirinya tidak ketakutan. Raden Kuncung menyatakan dengan hormat, bahwa ia ingin mempunyai piaraan buaya seperti yang dimiliki Ki Gedeng Atmawijaya.
Mendengar pengakuan Raden Kuncung, Ki Gedeng Atmawijaya merasa diperhatikan dan yakin dapat menundukkan tamunya yang muda belia itu. Kemudian diajaklah Raden Kuncung ke Kedung Reyong. Di Kedung Reyong segera Ki Gedeng Atmawijaya membuktikan kelebihannya di hadapan tamunya, dan berkata dengan nada congkak. “Nah anak muda, terbukti kan pengakuanku benar. Belum tentu orang lain bisa berbuat seperti ini. Bukankah tidak gampang dapat menaklukkan seekor buaya besar seperti ini?” Ki Gedeng Atmawijaya berkata dengan kedua tangan tak mau diam layaknya seperti seorang deklamator di atas panggung, bahkan seringkali diselingi kerlingan mata mengejek kearah Raden Kuncung melangkahkan kakinya mendekati buaya besar yang terlihat ganas siap menyerang dengan pandangan mata tajam menakutkan itu.
Sungguh aneh yang melihatnya, setelah dekat dengan buaya itu Raden Kuncung malah bercakap-cakap dengan buaya itu layaknya seorang manusia. Raden Kuncung berharap ingin memiliki buaya itu untuk dijadikan teman. Buaya besar itu menunduk tanda hormat kemudian menyatakan kesediaannya asalkan permintaannya dikabulkan, yaitu dirinya ingin menjadi seorang manusia kembali. Permintaan itu disetujui Raden Kuncung dengan syarat buaya itu sanggup menembus di bawah tanah membuat lorong dari Maneungteung sampai ke Pengarengan. Menyaksikan pembicaraan mereka, Ki Gedeng Atmawijaya menjadi gundah gulana, batinnya mengutuk Raden Kuncung, namun hati kecilnya mengakui pula bahwa pemuda tamunya itu memiliki ilmu kesaktian yang melebihi dirinya.
Setelah buaya menyatakan kesanggupannya kemudian pergi dari kedung meninggalkan kedua orang yang sedang menguji kesaktian itu. Setelah beberapa lama ditunggu buaya muncul kembali di pinggir kedung. Raden Kuncung segera menghampirinya, tetapi Ki Gedeng Atmawijaya tetap duduk. Raden Kuncung segera menyaksikan hasil karya buaya berupa terowongan yang menghubungkan Maneungteung dengan Pengarengan. Tibalah saat permintaan buaya. Dengan kekuatan gaib yang dimilikinya, buaya itu ditolongnya dan seketika berubah wujud menjadi seorang manusia bernama cipta Mulya. Keduanya lalu berangkulan sebagai tanda gembira.
Pemuda Cipta Mulya lalu diajak menghampiri Ki Gedeng Atmawijaya yang tercengang keheran-heranan memandang orang yang baru dikenalnya yang tidak diketahui sebelumnya dari mana datangnya. Setelah dijelaskan Raden kuncung barulah sadar bahwa pemuda Cipta Mulya berasal dari buaya piaraannya. Ki Gedeng Atmawijaya terharu dan bersujud di hadapan raden Kuncung dan mengatakan bahwa dirinya tidak mengira orang muda ini seharusnya ia jadikan guru. Raden Kuncung menerima, kemuadian keduanya menjadi pengikutnya dan memeluk agama Allah.
Raden kuncung dari Kenanga diiringi Sapta Arga dan Cipta Mulya, kembali ke Gilangkencana di wanasunya. Prabu Damar Murub menyambut Raden Kuncung dan pengikutnya dengan segala kehormatan.
Raden Kuncung sangat dihormati oleh seluruh penduduk Wanasunya, dan dianggap orang gaib yang diturunkan dari surga karena dapat melindungi dari segala malapetaka. Sebagai tanda bakti Prabu Damar murub kepada Raden Kuncung, diserahkanlah putrinya yang cantik jelita bernama Dewi Kencana Sari untuk dijadikan istri yang diterima Raden Kuncung dengan penuh syukur. Selanjutnya mereka dibuatkan keraton di Gebang dan menetap di sana di mana Malabaya, Cipta Mulya dan Ki Sapta Arga diangkat sebagai patih.
Tersebutlah Prabu Leleyan di dukuh Jeruk, menjadi marah setelah mendengar kabar bahwa Raden Kuncung dapat menundukkan beberapa orang raja hingga semuanya menjadi pengikutnya yang sangat setia. Dikerahkanlah seluruh wadyabala dan diperintahkan untuk menemukan letak Negara Raden Kuncung. Untuk memudahkan hubungan perjalanan dalam penyerangan, diperintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk membuat bendungan di pertemuan kali Cilosari dengan kali Sanggabaya (kemudian diganti nama kali Cisanggarung), di blok Janggalan. Supaya tidak terjadi banjir, sebagian aliran air dibuang melewati saluran pembuangan yang kemudian disebut KALIMARO.
Diutuslah oleh kerajaan Gebang tiga orang ulama untuk menyebarkan agama Islam diantaranya Raden Syafii, Raden Sulaeman, dan Raden Ghazali hingga wafanya beliau bertiga tetap mengabdikan dirinya untuk mengajarkan ilmu agama di Kalimaro, ketiga ulama itu dimakamkan di Pemakaman umum Kalimaro di dusun 01, pada tahap berikutnya di tahun 1810 hiduplah seorang yang sangat santun, sederhana, dan memiliki ilmu agama yang tetap melanjutkan perjuangan ketiga ulama yang berasal dari kerajaan Gebang yaitu Raden Syafii, Raden Silaeman dan Raden Ghazali. Masyarakat di pedukuhan lebih merasa senang bilamana daerahnya dipimpin oleh orang yang lebih dekat dan lebih dalam mengenal Allah, sehingga pada akhirnya semua orang sepakat menunjuk orang tersebut menjadi pemimpin mereka, masyarakat lebih sering menyebutnya dengan Bapak Oloh, karena menganggapnya pemimpin mereka itu adalah orang yang paling lebih mengenal dan dekat dengan Allah. Bapak Oloh merupakan Kuwu pertama, yang ditunjuk secara langsung oleh masyarakat. Menurut sebagian sumber sejarah. Di  awal kepemimpinan Bapak Oloh justru baru muncul nama Kalimaro, yaitu berasal dari kata “Kalimah Loro” atau dua kalimat Syahadat. Bertujuan untuk tetap mengingatkan kepada seluruh warganya agar tetap berpegang teguh kepada dua kalimat syahadat itu.
Bapak Oloh memimpin Kalimaro dari tahun 1810-1822 yang kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya yaitu Bapak Sepijan (1822-1830).
Pada masa kepemimpinan Kuwu H. Ali Mardi sejak tahun 1965 sampai dengan tahun 1985, dirasa terlalu luas dengan jumlah penduduk yang padat dengan pertimbangan untuk mempercepat laju pembangunan, tepatnya sejak tahun 1985 Desa Kalimaro mulai dimekarkan menjadi 2 (dua) Desa. Sebelah selatan sebagai wilayah yang dimekarkan dinamakan Desa Kalimekar, sedangkan sebelah utara sebagai induk wilayah adalah Desa Kalimaro.
Adapun silsilah Kuwu yang pernah menjabat di Desa Kalimekar sebagai berikut : 
  1. ALI MARDI                            Masa Jabatan 1985 - 1989   
  2. SARTONO                              Masa Jabatan 1989 - 1997
  3. H. SODIKIN                           Masa Jabatan 1997 - 2003      
  4. H. SAMA                                Masa Jabatan 2003 - 2013
  5. M. ABDUL RAHIM                 Masa Jabatan 2013 - 2019   
  6. EKA BAGHIONO, SE.            Masa Jabatan 2019 - Sekarang
 
 
Demikian, Mohon koreksi dan masukannya bila ada kekeliruan. Terima kasih



#PemdesKalimekar


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KUWU KALIMEKAR

KUWU KALIMEKAR
EKA BAGHIONO, SE.

KALIMEKAR MAJU

2/recent/post-list

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Comments

3-comments

Pencarian Info Desa Kalimekar

Hasil penelusuran

FOLLOW ME

LATEST

3-latest-65px

Travelling Diaries

Technology

Restaurants

Pemerintah Desa Kalimekar

Latest video-course

1-tag:Videos-800px-video

Cari Blog Ini

Pemerintah Desa Kalimekar

Campus

4-tag:Campus-500px-mosaic

Travelling

Cari Blog Ini

About

This just a demo text widget, you can use it to create an about text, for example.

Testimonials

3-tag:Testimonials-250px-testimonial

Header Background

Header Background
Header Background Image. Ideal width 1600px with.

Logo

Logo
Logo Image. Ideal width 300px.

Section Background

Section Background
Background image. Ideal width 1600px with.

Section Background

Section Background
Background image. Ideal width 1600px with.

Ads block

Banner 728x90px

Courses

6-latest-350px-course

Section Background

Section Background

ABOUT

Foto saya
MISI : 1.Meningkatnya jati diri dan karakter masyarakat yang makin beriman dan bertaqwa. 2. Menguatnya kemitraan dan tanggung jawab dalam pembangunan pendidikan keagamaan serta sarana prasarana keagamaan. 3. Menguatnya kesalehan sosial masyarakat dan aparatur pemerintah desa serta memperkokoh silahturahmi antar umat beragama untuk menguatkan pengamalan agam dalam kehidupan berkeluarga, bernegara, dan berbangsa. 4. Meningkatnya pembangunan-pembangunan sarana di bidang Agama

Contact us-desc:Feel free to contact us at anytime about our courses and tutorials.

Nama

Email *

Pesan *

KABUPATEN CIREBON

KABUPATEN CIREBON

Facebook

Technology

banner image

SEARCH

Random Posts

randomposts

Recent Posts

recentposts

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.